KONSEP KEUNGGULAN KOMPETITIF

A.      Keunggulan Kompetitif
1.      Strategi Teknologi Informasi
Sistem Informasi Strategis adalah sistem informasi yang menggunakan Teknologi Informasi (IT) untuk membantu perusahaan dalam hal mendapatkan keunggulan bersaing, meminimalkan hal yang tidak menguntungkan sehingga tercapai tujuan strategis perusahaan. Sistem Informasi Strategis membantu perusahaan dengan menyediakan produk dan layanan yang memberikan keuntungan lebih stategil dibandingkan pesaingnya dalam pasar yang kompetitif.
Menurut James O’Brien (2006: 43), Terdapat 5 Strategi dasar dalam bersaing menuju keunggulan yang kompetitif :
a.         Strategi Biaya (Cost Leadership Strategy), yaitu menjadikan produsen dengan biaya yang rendah, memberikan harga yang lebih murah terhadap pelanggan, menurunkan biaya dari pemasok, atau meningkatkan biaya pesaing untuk tetap bertahan di industri.
b.        Strategi diferensiasi (Differentiation Strategy), yaitu mengembangkan cara-cara untuk membedakan produk/jasa yang dihasilkan perusahaan terhadap pesaing sehingga pelanggan menggunakan produk/jasa karena adanya manfaat atau fitur yang unik.
c.         Strategi inovasi (Innovation Strategy), yaitu memperkanalkan produk/jasa yang unik, atau membuat perubahan yang radikal dalam proses bisnis yang menyebabkan perubahan-erubahan yang mendasar dalam pengelolaan bisnis.
d.        Strategi pertumbuhan (Growth Strategies), yaitu dengan mengembangkan kapasitas produksi secara signifikan, melakukan ekspansi ke dalam pemasaran global, melakukan diversifikasi produk/jasa baru, atau mengintegrasikan ke dalam produk/jasa yang terkait. 
e.         Strategi aliansi (Alliance Strategies), yaitu membentuk hubungan dan aliansi bisnis yang baru dengan pelanggan, pemasok, pesaing dan lain.
2.      Strategi Penggunaan Teknologi Informasi
Selain 5 dasar strategi kompetitif, investasi didalam teknologi informasi dapat mendukung perusahaan dalam bersaing, berikut adalah gambaran peran teknologi informasi dan contoh penerapannya.
a.         Penerapan teknologi informasi akan meminimalkan biaya bisnis proses, baik dalam hubungannya dengan konsumen maupun supplier.
b.        Meningkatkan service / layanan yang diberikan kepada pelanggan.
c.         Pemanfaatan teknologi informasi meminimalkan pesaing.
d.        Inovasi produk baru yang melibatkan teknologi informasi sebagai komponennya.
e.         Menciptakan pasar yang baru.
f.         Meningkatkan kualitas dan efisiensi serta mempersingkat waktu layanan pelanggan.
g.        Menggunakan IT untuk pengembangan bisnis (business development), mengatur bisnis secara regional dan global.  Membangun sistem informasi yang terhubung dengan internet dan extranet untuk support hubungan bisnis dengan costumer, supplier, sub-kontraktor, dsb.
       Menurut James O’Brien (2006: 45-46), Penekanan utama dalam sistem informasi strategis adalah menemukan cara untuk menciptakan biaya peralihan (Switching Costs) dalam hubungan antara perusahaan dan pelanggan atau pemasoknya. Dengan kata lain, investasi dalam teknologi sistem informasi, seperti yang disebutkan dalam contoh Wal-Mart misalnya, dapat membuat pelanggan atau pemasok bergantung pada penggunaan berkelanjutan dari sistem informasi antarperusahaan yang saling menguntungkan.
       Berinvestasi dalam teknologi informasi memungkinkan perusahaan untuk membangun kemampuan TI strategis sehingga mereka dapat mengambil keuntungan dari peluang ketika muncul. Dalam banyak kasus, ini terjadi ketika perusahaan berinvestasi dalam sistem informasi berbasis komputer canggih untuk meningkatkan efisiensi proses bisnisnya sendiri. gunaan berkelanjutan dari sistem informasi antarperusahaan yang saling menguntungkan.
3.      Konsep Keunggulan Kompetitif
        Keunggulan kompetitif merupakan jantung dari kinerja perusahaan dalam pasar yang kompettitf. Selain itu, keunggulan kompetitif merupakan tentang bagaimana sebuah perusahaann benar-benar menepatkan strategistrategi ke dalam praktik (Porter, 1985). Perusahaan yang akan bersaing pada kompetisi global harus memiliki keunggulan bersaing (competitive advantage) dibanding pesaingnya.
Menurut Fred David mendefinisikan keunggulan kompetitif sebagai “apa pun yang perusahaan lakukan lebih baik dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan saingan”. Ketika perusahaan dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan perusahaan saingan atau memiliki sesuatu yang diinginkan perusahaan saingan, maka itu dapat merepresentasikan keunggulan kompetitif (David, 2011, p. 9).
        Sistem informasi dapat mencapai keunggulan kompetitif pada tiga tingkatan, yaitu:
a.         Keunggulan Strategis (Strategic Advantage) adalah keunggulan yang memiliki dampak fundamental dalam membentuk operasi perusahaan.
b.        Keunggulan Taktis (Tactical Advantage), sebuah perusahaan mendapatkan keunggulan taktis (tactical advantage) ketika perusahaan tersebut mengimplementasikan strategi dengan cara yang lebih baik dari para pesaingnya.
c.         Keunggulan Operasional (operational advantage) adalah keunggulan yang berhubungan dengan transaksi dan proses sehari-hari. Disinilah sistem informasi akan berinteraksi secara langsung dengan proses.
        Tiga tingkat keunggulan kompetitif diatas akan bekerja bersamasama. Sistem informasi yang terpengaruh oleh ketiga ini akan memiliki kemungkinan terbaik untuk meningkatkan kenerja sebuah perusahaan secara substansial.
4.      Membangun Bisnis Berfokus Pelanggan
        Bagi banyak perusahaan, nilai bisnis utama mereka untuk menjadi bisnis yang berfokus pada pelanggan terletak pada kemampuan mereka untuk mempertahankan pelanggan itu loyal, mengantisipasi kebutuhan masa depan, menanggapi keprihatinan pelanggan, dan menyediakan berkuatitas tinggi layanan pelanggan.
        Fokus pada strategi nilai pelanggan diakui bahwa kualitas, bukan harga, telah menjadi penentu utama dalam persepsi pelanggan nilai. Dari sudut pandang pelanggan, perusahaan yang secara konsisten menawarkan nilai terbaik mampu melacak preferensi setiap pelanggan, mengikuti tren pasar, penyediaan produk, layanan dan informasi, kapan saja, di mana saja, dan menyediakan layanan pelanggan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap pelanggan. Selain teknologi Internet telah menciptakan peluang strategis bagi perusahaan, besar dan kecil, untuk menawarkan layanan dan produk yang cepat, responsif, dan berkualitas tinggi yang disesuaikan dengan preferensi setiap pelanggan.
5.      Rantai Nilai dan Strategi Sistem Informasi
        Rantai nilai (Value Chain) adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan suatu perusahaan untuk menghasilkan produk atau jasa (Porter, 1985). Menurut konsep ini, kegiatan perusahaan dibagi menjadi dua bagian besar yaitu kegiatan utama (primary activities) dan kegiatan pendukung (support activities). Kegiatan utama dibagi menjadi lima, yaitu:
a.         Logistik masuk (inbound logistic)
b.        Manajemen Operasi (operations)
c.         Logistik keluar (outbound logistic)
d.        Pemasaran dan penjualan (marketing and sales)
e.         Pelayanan (service)
        Peran sistem informasi dalam suatu organisasi sangat diperlukan untuk mendukung strategi bersaing bisnis sehingga keuntungan dapat diraih. Pemanfaatan sistem informasi dalam suatu organisasi dapat optimal apabila direncanakan dengan baik dalam suatu perencanaan strategis, salah satu strategi dalam meningkatkan daya saing adalah melalui pengembangan peran sistem informasi dalam perusahaan.

B.       Penggunaan Teknologi Informasi untuk Keunggulan Kompetitif
1.         Proses Ulang Rekayasa Bisnis
Hammer dan Champy (1993) mengatakan bahwa “Business Process   Reengineering adalah pemikiran Ulang yang mendasar dan rancangan ulang yang radikal dari suatu proses bisnis untik mencapai perbaikan yang dramatis. Dengan mengukur kinerja saat ini melalui elemen-elemen biaya, kualitas, pelayanan, dan kecepatan”.
Definisi BPR menekankan pada perancangan ulang suatu proses bisnis yang menantang praktik yang tengah berjalan dan bertujuan menghasilkan perbaikan atau peningkatan kinerja dalam proses bisnis yang signifikan.
a.         Teknis Pelaksanaan BPR Terdapat dua pendekatan utama dalam merancang suatu proses bisnis, yaitu pendekatan perancangan ulang secara sistematis (systematic redesign) dan dengan pendekatan “kertas kosong” (clean sheet).
b.        Tahapan-tahapan Rekayasa Ulang Tahapan Rekayasa Ulang yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1)        Memahami proses yang berlangsung
2)        Mengidentifikasi titik lemah pada proses yang ada
3)        Mencari peluang pemakaian TI.
4)        Membuat model proses baru yang efisien.
c. Karakteristik Rekayasa Proses Bisnis Karakteristik BPR menurut Hammer & Champy (1993):
1)        BPR dilakukan dengan menggabung beberapa pekerjaan menjadi satu.
2)        Karyawan-karyawan diberi wewenang untuk mengambil keputusan.
3)        Tahapan BPR dilakukan dengan urutan semestinya, tetapi beberapa pendapat dilakukan bersamaan.
4)        Proses-proses mempunyai versi berganda.
5)        Pekerjaan-pekerjaan dapat dilakukan di tempat-tempat yang dipandang beralasan.
6)        Pengendalian dan pengecekan dan pekerjaan-pekerjaan tambahan lainnya yang tidak memberikan nilai tambah diminimalkan.
7)        Rekonsiliasi diminimalkan.
8)        Suatu titik kontak tunggal disediakan untuk pelanggan.
9)        Gabungan operasi terpusat dan terdesentralisasi digunakan.
2.         Menjadi Sebuah Agile Company
       Agile competition adalah kemampuan perusahaan untuk beroperasi untung dalam lingkungan kompetitif yang mencakup perubahan preferensi pelanggan, kondisi pasar, dan kesempatan bisnis yang berlangsung secara terus menerus dan untuk predictable. Hambatan utama performansi agile competition adalah arus informasi internal maupun antar perusahaan.
3.         Menciptakan Virtual Company
a.         Enterprise Teknologi Informasi
Teknologi informasi dibutuhkan informasi untuk memusatkan suatu kegiatan bisnis, melakukan bisnis dengan baik dan benar, serta menciptakan kreativitas (inovasi) baru atau nilai baru. Teknologi informasi menjadi keunggulan bersaing bagi perusahaan dalam dunia persaingan bisnis yang semakin ketat. Penggunaan teknologi informasi tidak hanya dimonopoli perusahaan besar saja karena banyak perusahaan skala kecil menengah yang menggunakan teknologi informasi terutama untuk efisiensi.
b.        Perkembangan Organisasi Maya
Organisasi maya adalah suatu perusahaan yang menggunakan teknologi informasi untuk menghubungkan (link) orang, aset, dan pemikiran (knowledge) dari berbagai rekan bisnis, sumber daya manusia tanpa batas ruang, jarak, dan waktu dalam mengeksploitasi kesempatan bisnis. Di organisasi maya, setiap departemen dan aspek ditransformasikan dari proses yang terpisah (pada mulanya) ke penyatuan proses (integrasi). Pada awalnya, departemen personalia, keuangan, pemasaran dan lain–lain.
c.         Implikasi, Tantangan, dan Perubahan
Digitalisasi arus informasi adalah tujuan utama integrasi dan organisasi maya. Jika dahulu data atau informasi tersebar menjadi “pulau informasi”, tugas integrasi adalah menyatukan dan menghubungkan “pulau informasi” tersebut. Aplikasi (software) yang digunakan pun berubah dari single-application menjadi multi application, multi company, dan multi audience. Dengan adanya gabungan serta keanekaragaman aplikasi itu, dituntut pula suatu media untuk standarisasi, yaitu internet. Protokol internet dapat digunakan secara global.
d.        Virtual Private Networking
Dengan menghubungkan jaringan lokl (intranet dan ekstranet) ke jaringan publik (internet), memiliki risiko seperti penyadapan (sniffed) oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, diterapkan teknologi yang dapat menghubungkan antara dua buah komputer (jaringan) secara aman melalui jaringan internet, yaitu denga VPN.
       VPN adalah sebuah teknologi untuk menciptakan koneksi aman antara dua buah bagian pada jaringan privat yang menggunakan sarana jaringan internet sebagai sarana komunikasinya sehingga biaya koneksi dapat ditekan seminimal mungkin.
e.         Strategi Untuk Organisasi Maya
                                         1)         Sharing infrastruktur dan risiko.
                                         2)         Adanya link antarberbagai kompetensi utama.
                                         3)         Mengurangi “concept-to-cash time” melalui sharing.
                                         4)         Meningkatkan fasilitan dan cakupan pasar.
                                         5)         Adanya akses ke pasar baru atau memperoleh loyalitas pelanggan.
                                         6)         Beralih dari menjual produk ke menjual solusi.
4.       Membangun Knowledge-Creating Company
Dalam sebuah perekonomian di mana satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian, salah satu sumber yang terpercaya dari keuntungan kompetitif yang tetap ada adalah pengetahuan. Ketika pasar berubah, teknologi berkembang, pesaing bertambah, dan produk menjadi tidak terpakai dalam waktu sekejap, perusahaan yang berhasil adalah perusahaan yang secara konsisten menciptakan pengetahuan baru, menyebarkanya secara luas ke seluruh organisasi, dan dengan cepat memasukkannya dalam teknologi dan roduk baru. Aktivitas ini menjelaskan perusahaan “knowledge-creating”, di mana satu-satunya bisnis adalah inovasi yang berkelanjutan.


Referensi

 David, F. R. (2011). Strategic Management: Concepts and Cases (13th ed.). New Jersey, NJ: Prentice Hall.
 O'Brien, James A dan George M Marakas. 2014. Sistem Informasi Manajemen : Edisi Sembilan. Jakarta: Salemba Empat.
 O'Brien, James A dan George M Marakas. 2006. Management Information Systems : Seventh Edition. New York: McGraw-Hill Irwin.
Porter, M. E. 1985. Competitive Advantage. New York : Free Pass.